Kisah Wanita yang Bersembunyi Dalam Penampilan

Bersembunyi Dalam Penampilan

Pakaian bukanlah sebagai sekedar pelindung raga dari panas dan dingin,terpaan angin dan sengatan matahari.Ia bukan pula sekedar alat berhias,menonjolkan daya tarik fisik agar memikat siapapun yang memandang.Kekuatan kepribadian dan nilai diri,sesungguhnya seringkali biasa terlihat dari cara seseorang berpakaian.

 

Maka saat sosok Ranti (bukan nama sebenarnya) menggelisahkan malam-malam Joko (juga bukan nama sebenarnya),tentulah bukan nafsu syahwat pemicunya.Gadis manis berkerudung itu sangat anggun dan menawan.Sulit mencari nafsu di mata Joko ketika mencuri-curi pandang menikmati bayang-bayang sang pujaan hati yang berkelebat.

 

“Saya jatuh cinta pada pesona ‘inner beauty’nya,”kata Joko.”Ada rasa damai berdama dengan keteduhan yang mengirimi bahasa tubuhnya.”Maka hari-hari berikutnya adalah perburuan Joko akan muslimah cantik yang ternyata aktifis kampus itu.Joko terpanah asmara!

 

Berbagai acara diikutinya untuk mencuri perhatian sang pujaan.Bahkan berbagai atribut organisasi mulai menjadi atribut tambahnnya.Mulai dari t-shirt,stiker,gantungan kunci,mug,agenda,sampai yel-yel para aktifis organisasi.

 

Joko yang memang ganteng kemudian menjadi pahlawan.Tangannya menjadi ringan untuk menolong para akhwat.Tenaga,waktu,pemikiran hingga dana.Ranti memberi isyarat,dan langit adalah biru ketika kesempatan itu datang.Perkenalan malu-malu berkanjut mengantar pulang si gadis ke rumahnya di luar kota-beberapa bulan kemudian-.

 

Awalnya mereka beda bangku walaupun satu bis.Hingga ketika terlambat mendapatkan bis,’terpaksa’Joko mengantar Ranti bersepeda motor.Dan mereka kehujanan.Dan mereka kemalaman.Untuk kemudian, –masya Allah– mereka berhubungan badan.Meski sempat menangis menyesali –mirip cerita sinetron- toh peristiwa itu terulang tiga kali.”Saya khilaf,”Joko memberi alas an.”Dan saya akan bertanggung jawab.Saya akan melamar secepatnya,bahkan meski kami belum selesai kuliah.”

 

Dua minggu kemudian wajah Joko mendung.Langit yang gelap seolah memperjelas kesedihannya.”Saya kecewa.”kata Joko lirih.”Ranti menolak saya nikahi dan malah marah-marah.Dia heran kenapa saya harus repot-repot bicara soal tanggung jawab,sementara dia sendiri tak peduli.”

 

Ranti memang gadis berkerudung sekilas tampak anggun dan menawan.Namun siapa sangka dia menikmati seks bebas?Bukankah baju melambangkan pilihan keyakinan?Ia semestinya bukan sekedar kain pembungkus kulit yang bebas nilai.Pada kasus Ranti,baju ternyata adalah persembunyian yang memperdaya.Termasuk keaktifannya di organisasi Islam.

 

Boleh jadi masih banyak Ranti-Ranti yang lain di sekitar kita.Yang belum menjiwai posisi dan peran sebagai seorang muslimah dengan segala tuntutannya.Atau bahkan menebarkan pesona melalui pakaian kepalsuan dan memanfaatkan kebodohan Joko-Joko akan arti sebuah kesholihan sosok perempuan.

 

Disunting dari majalah Ar-Rislah No.56 / Muharrom 1427 H / Februari 2006

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: